Sabtu, 22 Januari 2011

December 2010 tragedy

Pergantian tahun 2010 hampir mendekati. Semua orang beramai-ramai ingin merayakan hari pergantian tahun itu dengan hati yang gembira. Spanduk-spanduk untuk merayakan pergantian tahun di mana-mana terpampang. Baik di toko-toko, jalan-jalan, kantor-kantor dan hotel-hotel, tak terkecuali rumah sakit besarpun memasang spanduk itu.
Sabtu pagi di pertengahan Desemberpun di awali dengan teriakan anak-anak lelakiku yang asyik membantu suamiku mencuci mobil seperti biasanya. Mereka dengan senang hati membantu ayahnya membersihkan mobil kesayangan ayahnya. Pa, saya bagian mencuci mobil , teriak anak laki-lakiku no. 2, saya bagian lap, teriak anak lelakiku yang pertama. Ya, ya , jawab suamiku dengan suka cita. Tetangga-tetanggaku yang melihat sampai tersenyum-senyum melihat tingkah polah kedua anak lelakiku tersebut. Anak lakiku yang pertama sudah bisa menyetir mobil. Dia telah lulus kursus setir mobil minggu lalu, sementara adik laki-lakinya, kebetulan badannya lebih besar dari dirinya belum pernah sama sekali mendapat kursus atau pelatihan mobil, karena umurnya belum cukup dan kebetulan hanya badannya saja yang besar, sementara sekolahnya baru menginjak 1 SMP. Saya sebagai mamahnya merasa bangga mempunyai anak-anak yang nurut dan rajin-rajin. Sementara mereka mencuci mobil, 2 anak perempuanku dan pembantuku membantu di dapur membuatkan teh manis hangat dan kue-kue kecil untuk makanan anak-anak laki dan suamiku.
Mencuci mobil selesai, suamiku kemudian pergi mandi, sementara 2 anak lelakiku asyik di dalam mobil tersebut saling bercanda dan berpura-pura seperti layaknya mereka sedang mengendarai mobil. Anak laki-lakiku yang ke 2 berlagak seperti seorang supir, dia memegang setirnya, dan kakaknya asyik dengan radionya. Mungkin, karena kunci mobil tersebut masih tertancap di mobil tersebut, anakku yang ke 2, diam-diam mencobanya, dan ternyata , mobil tersebut berjalan pelan-pelan, karena panik anakku tersebut menginjak gas dengan kerasnya, kakaknya kaget bukan kepalang melihat kelakuan adiknya. Tapi kejadian tersebut berlangsung dengan begitu cepatnya, mobil berjalan dengan kencang dan hampir terasa mau terbang.... bum...bummm bunyi mobil menabrak tempat dudukan dan pagar dari rumah tetanggaku serta kemudian mobil tersebut menabrak pohon-pohon dan tiang-tiang telepon yang ada di dekat pohon-pohon tersebut. Mobil tersebut barulah berhenti ketika menabrak sekali lagi dudukan rumah tetanggaku yang kedua. Tetangga- tetangga disekitar komplekku banyak berhamburan keluar untuk menyaksikan bunyi yang keras tersebut. Mungkin hampir satu komplek, orang-orang yang berdatangan untuk melihat peristiwa tersebut. Mobil terletak agak miring, sementara anak lelakiku yang pertama, alhamdulilah bisa keluar walaupun agak terhimpit pohon, dan anak ke 2 ku yang pegang setir, seperti orang kemasukan, duduk terdiam dengan pikiran kosong. Sementara orang-orang diluar mobil sudah berteriak supaya keluar. Akhirnya kedua anakku tersebut keluar. Alhamdulilah mereka tidak ada yang luka. Suamiku dengan handuk mandinya berlarian keluar dari kamar mandi, sementara diriku lari untuk menyelamatkan kedua anakku tersebut. Sekali lagi , Alhamdulilah , Kuasa Alloh. Mereka tidak apa-apa. Walaupun orang-orang sekitarku berteriak-teriak memarahi anak-anakku, karena kekeliruan tersebut. Anak-anakku merasa shock dengan kejadian tersebut. Pikiranku membayangi seandainya ada orang yang tertabrak apalah jadinya. Sekali lagi , Alloh terima kasih Kau telah melindungi anak-anak lelakiku, walaupun harus kehilangan mobil dan harus mengganti pagar-pagar rumah tetanggaku, tempat duduk-duduk , pohon-pohon serta tiang-tiang telepon. Mudah-mudahan dibalik kejadian tersebut tersimpan kejadian manis di tahun 2011.

Tidak ada komentar: