Rabu, 11 Agustus 2010

Harti Pertama Berpuasa

Jam telah menunjukan angka 02.30, pembantuku sudah bangun untuk memp;ersiapkan hidangan makan sahur. Hari ini adalah malam pertama makan sahur. Walaupun tidak banyak makanan yang dihidangkan, tetapi terasa nikmat. Mie kuah + soto ayam adalah makanan sahur keluargaku di hari pertama ini. Dibanding makan ikan-ikanan atau daging-daging, anakku lebih senang makan indomie walaupun sederhana + nasi yang masih panas + teh manis hangat. Satu panci, bisa langsung tandas sampai benar-benar kuahnyapun tidak ada lagi. Alhamdulilahlah yang penting ada yang dimakan sebagai makanan sahur. Pada Sahur hari pertama hari ini, agak berbeda dibanding pada tahun lalu. Biasa anak-anak berpawai sambil membangunkan warga komplek, pada tahun ini kelihatan sepi. Apakah anak-anaknya sudah menjelang dewasa, mereka malu lagi untuk melakukannya atau masih menunggu harapaan yang datang dari Gubernur.

Minggu, 08 Agustus 2010

Menulis

Udah lama juga saya vakum untuk menulis blogku. Sebenarnya unek-unek untuk menulis sudah banyak didalam kepalaku, tapi untuk menulisnya kendalanya banyak sekali, terutama rasa malas yang berlebihan yang membuat diriku tidak produktif lagi. Untuk memulainya lagi memang terasa berat sekali, tetapi memang harus dipaksakan. Setelah mood menuliskum datang, saya langsung saja membuka laptop suamiku, kebetulan saya tidak punya laptop sendiri, jadi harus bergantian.
Begitu juga dengan anakku yang baru masuk satu SMA di Bekasi kelas unggulan , dimana setiap laporan dan kegiatannya banyak menggunakan laptop. Sementara laptop di rumah hanya ada satu, dan itupun sering di bawa suamku untuk bekerja dirumah. Untuk menuangkan tulisanku di buku, ah malas juga, karena harus mengetiknya kembali kedalam laptop. Dengan banyak membaca majalah-majalah yang bagus , insya ALLOH pengetahuanpun semakin banyak, dan merupakan acuan dan bahan yang bisa di selsaikan.

Contoh Teladan OrangTua

Setelah sekian llama menjadi orangtua, ternyata memang apa yang dikatakan para ahli psikologi maupun ahli anak, bahwa contoh teladan orangtua berpengaruh besar bagi pribadi anak-anaknya.
Tidak jauh , jika kita lupa saja dalam memberi contoh misalnya kita agak malas cuci rambut ketika mandi, sang anakpun akan mengikutinya, Mamah aja tidak keramas, saya juga tidak ah mah, nanti aja katanya. Contoh lain adalah ketika mau sholat , mama dulu aja nanti baru saya, dan mungkin hal itu juga merupakan salah satu contoh dari orang tuanya. Ya pastilah ketika kita dalam iman yang sedang turun, kita sebagai orangtua tanpa disadari juga memberikan contoh yang kurang baik seperti menunda sholat , dan anakpun akan ikutan juga untuk menunda sholat.
Benar- benar apa yang kita kerjakan akan selalu diikuti oleh anak-anak. Jika Ahlaq ke 2 orang tua bagus , pastilah anak kita menjadi anak yang baik pula. Tetapi jika Ahlaq orangtuanya tidak bagus, kemungkinan besar anak-anakpun akan mengikutinya. Seperti Pepatah Bagai air jatuh kepelimbahan. Anak-anak tidak akan jauh pribadinya daripada orangtuanya. Jadi untuk jadi orang tua haruslah benar-benar bertanggung jawab terhadap kehidupan anak-anaknya. Insya Alloh, dengan bimbingan, doa dan Hidayah dari Alloh SWT, kita sebagai orangtua bisa memberikan contoh yang baik bagi anak-anak kita. Amien...

Perasaan seorang wanita

Kenapa sih hal yang kecil gitu aja dipikirin, kata suamiku ketika saya menceritakan kepadanya tentang perasaanku yang tidak enak mengenai makanan, 3 mangkok asinan dari hajatan tetanggaku untuk 2 anak lelakiku dan pembantuku. Wajar aja lah, kan kamu nggak ngambil sendiri, kamu diminta oleh tuan rumahnya untuk membawanya untuk anak-anak lelaki kita yang malu-malu untuk hadir pada hajatan itu. Iya sih, jawab diriku. Tetapi saya tidak enak ketikaku lewat pada beberapa kumpulan ibu-ibu tetanggaku yang sedang menikmati makanan pada hajatan tersebut. Memang itulah perasaan seorang wanita yang selalu lebih halus dibanding lelaki.
Mungkin terlalu dibesar-besarkan barangkali, tapi itulah kenyataannya, mungkin bagi orang yang cuek hal itu tidak menjadi masalah tetapi bagi sebagian wanita yang halus perasaannya mungkin hal itu bisa menjadi bumerang bagi kehidupannya sendiri. Termasuk mungkin bagi diriku, apalagi saya jarang bergabung dengan ibu-ibu yang ada di lingkunganku karena kesibukanku sehari-hari bekerja dari subuh sanpai datangnya magrib. Dibanding dengan ibu-ibu lain di lingkungan komplekku. Yang sebagian besar adalah Ibu Rumah Tangga sejati. Pernah juga saya berdiskusi dengan teman-tenan di kantorku, dan ternyata banyak sekali kesamaan dengan kehidupan bertetangga di lingkungan komplekku. Ya , wajar , wajarlah itu jawaban yang mungkin bisa membuat perasaan wanita kita tidak merasa tidak enak terhadap lingkungan di sekitar rumah kita.