Sabtu, 20 Februari 2010

Kue Rangi

Siang itu setelah pertemuan dengan teman-temanku, saya pulang dengan dijemput salah satu anakku. Udara siang tersebut boleh dibilang tidak terlalu panas , bahkan cenderung akan turun hujan. Saya berpapasan dengan bapak tua penjual kue rangi. Pak, pak , beli pak, teriakku kepada pedagang tersebut. Bapak pedagang kue rangi tersebut berhenti. Sayapun turun dari motor. Satunya berapa pak? tanyaku. Satu papan terdiri dari 5 buah kue rangi , dijual dengan harga hanya Rp.1.ooo rupiah. Tidak terllalu mahal, tapi lumayan sebagai camilan di siang hari. Beli Rp. 3.000 saja pak, pesanku. Bapak tersebut membuatnya dengan gesitnya. Saya memperhatikan pak tua tersebut mengolah kue rangi tersebut. Memang tidak terlalu sulit, hanya segelas plastik berisikan adonan kue rangi yang terdiri dari parutan kelapa agak panjang sekitar 5 cm an dicampur dengan sagu Obeng dan sedikit garam. Adonan tersebut di tuangkan di atas cetakan yang terdiri dari 2 besi yang sudah dibuat lubang-lubang untuk adonan kue tersebut. Ditutup dan kemudian pak Tua tersebut meneteskan beberapa minyak tanah ke potongan kayu kedalam tungku pemanas adonan tersebut dan kemudian dibakar dan ditiupnya dengan suluh. Apipun mulai menyala membakar cetakan kue tersebut

Rabu, 17 Februari 2010

Wanita jaman sekarang

Sejak dulu memang wanita harus pandai mengatur dirinya. Terutana ketika seorang wanita memutuskan untuk hidup berumah tangga. Problema dalam rumah tangga akan sering kali muncul jika antara dua orang yang berbeda saling menampilkan keegoannya masing-masing. Saling merasa menang sendiri. Apalagi ditambah keaadan ekonomi yang kurang mendukung. Dari masalah yang kecilpun bisa menyulut menjadi masalah besar. Begitupula jika mempunya anak yang bermasalah seperti jika anak tersebut mempunyai masalah bawaan sejak bayinya, jika tidak kuat-kuatnya seorang wanita dan tidak ada dukungan yang kuat dari pasanganpun bisa membuat perempuan menjadi down. Banyak juga wanita jaman sekarang yang benar-benar survive sekali terutama dalam mengasuh anak-anaknya. Di samping mereka harus membantu suami dalam mencari nafkah, mengajar anak-anaknya ketika pulang kantor, menyiapkan makanan untuk suami dan anak-anaknya. Sampai kadang-kadang mereka lupa akan memanjakan dirinya. Saya salut sekali dengan wanita-wanita atau ibu-ibu yang bisa dengan sabar mengasuh anak mereka yang dalam masalah cacat bawaan menjadi anak yang berguna untuk dirinya dan keluarganya di masa depan. Memang seorang wanita tidak hanya dituntut untuk menjadi seorang teman , ibu bagi anak-anaknya dan pacar atau istri bagi suaminya. Makanya tidak salah jika di dalam agama Islam, Nabi Muhammad SAW selalu mengingatkan bahwa kita harus menghargai ibumu, ibumu dan ibumu. Dan memang pengorbanan seorang wanta atau seorang ibu banyak sekali. Tapi itulah yang membuat seorang wanita diberikan penghargaan yang besar dibanding dengan kaum laki-laki. Tanpa menyampingkan peranan seorang laki-laki sebagai seorang pimpinan di dalam keluarga.
Komitmen yang kuat diantara pasangan sangat diperlukan. Karena hidup ini bukan hanya indahnya saja, tapi ada variasinya, kadang-kadang detik ini gembira bisa jadi detik berikutnya sedih. Besok ada di atas besok lagi di bawah, jika tidak ada saling keterbukaan dan saling dukungan antar sesama , bisa dibayangkan lagi seperti apa kehidupan ini. Apalagi di masa sekarang ini, ekonomi sangat berpengaruh sekali. Jika ada uang abang sayang, jika tidak ada abang di tendang. Banyak wanita yang tidakj kuat menghadapi keadaan seperti sekarang ini, terlebih-lebih jika sang suami kena pemutusan hubungan kerja, dan untuk melamar suatu pekerjaan tidaklah mudah, anak-anak masih perlu dana yang besar untuk sekolah dan kehidupannya, sementara kehidupan harus berjalan terus dan semuanya harus di selesaikan dalam waktu yang bersamaan. Banyak wanita yang tidak kuat menghadapinya, kadang-kadang jalan pintaslah yang mereka lakukan yaitu perceraian. Sementara sang suamipun menjadi bingung dan bahkan kadang-kadang ada yang sampai stres ataupun stroke. Dan hal inilah yang membuat semakin beratnya kehidupan ini. Anak- anak banyak yang tidak punya pegangan hidup karenanya. Mereka menjadi terombang-ambing antara ikut ibu ataupun ayahnya. Jika seandainya ketika perjanjian dalam suatu perkawinan diterapkan, hidup bersama-sama dalam keadaan senang ataupun duka, mungkin hal itu tidak akan terjadi. Tetapi hal itu , mungkin hanya orang-orang yang survive dan komitmen tinggilah yang bisa menghadapinya. Istilah Alloh akan memberikan cobaan sesuai dengan batas kemampuan umatpun sudah tidak banyak mengena, apalagi dalam masalah ekonomi. Berbahagialah kaum wanita yang bisa survive dalam kehidupan bersama dengan suami dan dapat mengantar anak-anaknya ke masa depan yang cerah. Hanya doalah yang saya mohonkan agar diriku menjadi seorang wanita yang bisa mengantarkan anak-anakku menjadi anak-anak yang berguna bagi kehidupannya sendiri, keluarga, agama dan negaranya. Amien.