Rabu, 06 Januari 2010

Tetangga

Kehidupan di kota seperti Bekasipun memanglah komplek. Terutama bagi para pendatang. Seperti juga kehidupan di komplekku. Sangat komplek, bukan hanya karena hidup dilingkungan tetangga yang hidup dan bekerja dalam satu instansi, tetapi juga hidup di lingkungan yang masih berbau kampung. Karena daerah yang saya huni memang daerah komplek di antara perkampungan. Jadi masalah yang timbulpun komplek sekali. Hubungan sosial di antara penghuni komplekku bisa dianggap kompak. Tetapi sayangnya ada segi negatifnya juga, yaitu ketika ada isu atau kasus yang menimpa salah satu penghuni tersebut, bisa dengan mudah menyebar kemana-mana, terutama ketika kumpul-kumpul atau arisan Ibu-Ibu atau Bapak-bapak. Sementara bagi pendatang di komplek tersebut seperti diriku membuat kurang nyaman, apalagi kalau melihat pendatang yang lebih tinggi tingkat sosialnya dari mereka. Ramelah gosip-gosip di lingkungan komplekku tersebut. Kadang-kadang membuat telinga panas, padahal hal yang digosipkan itu belum tentu benar. Seperti yang sering kudengar dari seorang tetangga pendatang sebelah rumahku. Eh , Ibu Rina, tahu nggak bu, saya pusing deh bu tinggal di sini. Tadinya saya mau diamkan, tetapi lama-lama Ibu itu semakin keterlaluan, bayangin saja ya Bu, saya kerja mati-matian dari pagi sampai malam membanting tulang, eh mereka pikir saya itu tidak mau bersosialisasi. Katanya Ibu itu cari duit terus, sampai tidak mau kenal orang, mending kalau kaya. Saya , hanya bisa menarik nafas saja, sudahlah bu Tati, tidak usah di dengar, mungkin lainkali, jika Ibu punya waktu luang bisa ikutan salah satu kegiatan disini kataku mengingatkan. Karena kita orang pendatang bu, apalagi kita tidak sekantor dengan mereka. Jadinya ya di terima aja bu. Mungkin , lain waktu juga mereka akan mengerti. Tak usah dipikirkan bu. Jangankan Ibu, saya dengarpun ada salah satu tetangga kita yang satu instansipun diceritakan tentang aibnya di kantor, padahal kan itu tidak perlu sama sekali, dan mungkin karena satu kompleklah mereka berani untuk bicara seperti itu.

Tidak ada komentar: